Sumber: Serambi Indonesia, 06 Januari 2008
Cerpen: Saiful Bahri ]
Kenikmatan apakah yang terkandung dalam sebuah kekalahan? Itu dan begitu terus pertanyaan yang berkisar-kisar dan menggaruk-garuk saraf pikirnya hampir tiga minggu ini. Akibatnya ia tak peduli lagi tentang semua. Tentang dirinya yang kian lusuh, kurus, pucat dan gemetar juga tak mau diacuhkannya lagi. Percuma dan semua terasa sia-sia.
Hari ini langkah yang gontai itu menapak dan
tersaruk-saruk disela-sela gundukan tanah kuburan.
Sesekali tangan tuanya menyaput rambut putih kusut
masai yang jatuh dimukanya. Ia gelagapan sambil
mengumbar seuntai senyum kecut. Sekali ia lototkan
mata cekung itu ke langit yang tengah dikerubung
awan hitam. Kemudian dengan sangat perlahan
dijatuhkan tubuh tua itu di samping gundukan tanah
sebuah kuburan.
Perang batin tua itu berkecamuk lagi. Ia kembali
terpelanting ke sudut dinding-dinding usang yang
pernah mencatat sejarah masa jayanya dahulu. Suatu
kali ia pernah lupakan kodrat, ketika suka cita
dunia tertoreh indah di mata hatinya. Ia
terbentur-bentur dan melebur-lebur di dalamnya.
Sungguh nikmat dan indah sekali nikmat itu. Tak
terkatakan. Tak terlukiskan.
Tetapi itu hanya sekejap. Sungguh sangat sekejap.
Sebab setelah itu ia dipelantingkan kembali ke
dinding-dinding karang yang garang girang mencucuk
dan menggerus habis catatan sejarah masa jayanya
dahulu itu. Kisaran masa hitam bersuka ria
mempontang-pantingkan keberadaan dan
ketidakberdayaannya. Semua bersorak,
mengancung-ancungkan tangan, menepuk dada,
menggeleng kepala, meneguk euphoria, bersitkan
citarasa bahagia yang entah apa, atas segala
nestapa yang menimpanya.
Sekarang ia kusyuk terpekur di samping gundukan
sebuah kuburan. Ia tidak tahu kuburan siapa yang
diziarahinya itu. Ziarah? Adakah ini suatu ziarah?
Bukankan dulu ia berprinsip kalau ziarah adalah
tindak pasrah orang-orang kalah? Ah, itu tidak
terlalu riskan untuk diungkit-ungkit. Sekarang
yang mengganjal tanya di batinnya adalah mengapa
mesti ke kuburan? Adakah ia tengah dihipnotis?
Rasa-rasanya tidak! Sampai detik ini ia masih bisa
membedakan antara hitam dan putih, antara pahit
dan asin. Ia masih sanggup mengangguk dan
menggeleng, berkata ya dan tidak. Dan yang lebih
vital lagi ia masih bisa bergerak. Ia masih hidup!
Tetapi dalam gerak hidup kali ini ia berkeyakinan
kalau ia ini bukan dirinya yang itu lagi. Inilah
yang membuatnya gamang. Ngeri!
Di tengah kengeriannya tiba-tiba ia berkesimpulan
bahwa gundukan kuburan yang berada di hadapannya
itu adalah kuburannya. Ia terbelalak. Gemetar.
Bingung. Terbentur. Tak mungkin pungkir dan
mangkir. Ia terjebakl. Ia sungguh-sungguh
terjebak. Ini lubang yang digalinya sendiri. Ini
lubang akan membenamkan dirinya sendiri. Dalam
kalut bimbang itu ia mencoba tersenyum, sambil
bergumam lirih: Aku benar-benar dipaksa nikmati
kalah.
Tak perlu penyesalan di akhir perjalanan! seru
sebuah suara dari dalam kuburan.
Ia termangu sejenak. Keyakinannya digerogoti lagi.
Benarkah ia mendengar suara? Ataukah itu hanya
suatu ketiadaan yang sengaja diada-adakan sehingga
menjadi ada. Ia tak percaya! Ia tak mau
mempercaya! Sebentar kemudian ia mulai tersedu.
Pedih! Pilu itu memerih!
Tak perlu tangisan di akhir perjalanan! seru suara
itu lagi.
Sekarang ia yang terperangah. Ia mendadak marah.
Siapa kau?! bentaknya keras.
Aku kau! jawab suara dalam kuburan dingin dan
pelan.
Heh?! Olok-olok macam apa ini?
Tidak! Aku tak mengolok diriku sendiri…
Jadi?
Ya, Akulah kau. Kaulah aku. Kita telah mati!
Tercenung ia sejenak. Kemudian perlahan ia
rogoh-rogoh saku celananya. Ia keluarkan sebungkus
rokok yang sudah lusuh sekali. Kisaran Hitam. Itu
nama rokoknya. Unik sekali tingkahnya ketika ia
memilin-milin rokok itu. Lalu dengan telaten ia
membakarnya dan menghisapnya dalam-dalam. Lama
sekali. Dipejamkan matanya sambil membaringkan
tubuh sebujur gunduk tanah kuburan. Dinikmati
citarasa Kisaran Hitam ketika dikepul-kepulkan
asapnya yang sungguh pekat hitam warnanya. Asap
itu berputar-putar mengerubung sekujur gunduk
tanah kuburan, menyekap empat penjuru kompleks
kuburan, menyaput langit-langit kampung, mengepung
kota-kota, mengurung dinding-dinding pembatas
negeri. Dihisap dan dihirup lagi rokok itu, lalu
dikepul-kepulkan lagi nikmat asap hitam itu. Maka,
hitamlah hitam!
0 Tanggapan ke “Kisaran Hitam”