Celaka 12

Sumber: Serambi Indonesia, 13 Januari 2008

Cerpen: Saiful Bahri ]

Di bawah cahaya bulan purnama, di mulut kuala, di hamparan empuk pasir hangat pantai Panteraja, kedua dua manusia tua itu bercengkrama, mengurut-urut penggalan kisah hidup yang hampir luput. Angin asin yang berhembus lurus mengiring asing sebuah biduk kecil yang larut melaut. Riak kecil laut yang tenang bersitkankan bayang jingga bulan tembaga dari balik hutan bakau yang merisau.

Kek Sawang dan Kek Leman sesekali terkekeh ketika
kenangan lucu itu kembali mengharu dan
melesak-lesak di hati dan mendenyut-denyut di
batok kepala mereka. Sungguh baru kemarin terasa
itu semua. Bau lumpur payau yang pahit dan
kepiting-kepiting kecil yang berlarian riang
keliangnya masih menyisakan ceria usia belia.
Lalu, kini kemana berlalu semua itu? Sungguh
sangat terlalu waktu yang sungguh cepat berlalu.

Maka, inilah dia celaka 12. Celaka di bawah
siraman cahaya bulan kala hari ke 12. Celaka
ketika tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Celaka
yang sungguh mencelakakan. Celaka yang tak
main-main ketika semua dianggap permainan. Celaka
yang mejerat dan melilit, lalu menyeret, lalu
membekap, lalu menggorok putus segala bangga yang
membanggakan Kek Sawang dan Kek Leman dikelampauan
masa lalu yang telah berlalu.

Leman, inikah akhir kita? desah Kek Sawang lirih
sambil menerawang tinggi menembus cakrawala,
melintasi bintang-bintang.

Akhir? Belum. Ini belum berakhir. Ini bukan akhir?
jawab Kek Leman serak sambil terus melinting rokok
daun nipahnya pelan-pelan.

Jadi?!

Ini baru awal. Ini baru coba-coba…

Coba-coba?

Ya!

Coba apa? Coba Siapa?

Celaka!

Celaka?

Kita dicoba untuk celaka. Celaka yang ke 12!

Gila!

Hmk!

Tercekat mereka sejenak. Angin terdepak mati.
Bulan meremang. Malam bergetar. Laut menguap.
Biduk kecil linglung. Harapan kosong.
Pikiran-pikiran membusuk. Angan-angan melepuh.
Kota-kota tenggelam satu-satu. Kampung-kampung
tergadai satu-satu. Janji-janji basi membasi.
Mimpi-mimpi lekang merapuh. Gairah tertindih.
Langit tergulung. Bumi terlipat. Celaka 12 itu
melindas semesta Kek Sawang dan Kek Leman
seutuhnya.

Di kedai kopi yang luput digerus malam,
lamat-lamat dari radio tua terdengar sebait lagu
Ebit G. Ade : Ini salah siapa, ini dosa siapa..

Ketika pagi menjelang, Kek Sawang dan Kek Leman
gemetar pulang meniti pematang tambak. Tak
dihiraukan lagi bau lumpur payau yang pahit
menyengat dan gerak riang kepiting memburu liang.
Mereka kecewa karena ternyata pagi masih ada.
Mereka berharap malam segera merayap lagi, agar
mereka dapat bercengkrama lagi. Agar mereka
mereguk celaka 12 lagi.

Di ujung sisa usianya, Kek Sawang dan Kek Leman
terus meraba-raba makna segala celaka.

Treinggadeng, 12 Januari 2008

0 Tanggapan ke “Celaka 12”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Klik tertinggi

Kategori

Komentar Terakhir

Blog Stats

  • 36,768 hits

 

Januari 2008
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.