Sumber: Serambi Indonesia, 20 Januari 2008
Cerpen: Saiful Bahri
Beratus tahun sudah kupaham-pahamkan jerat jahil yang sabar kau tebar di selingkup kampung kami yang menggelinjang dirangsang tabu demi tabu. Indah nian jerat jahilmu menjerat kami, warga kampung yang lugu, untuk bangga berjahil dan risih tersisih jika tak jahil. Sungguh jahilmu itu telah mendedah dan mengubah tabiat kami, adat kami, darah merah kami. Berbahagialah, karena jahilmu itu telah jahilkan kami.
Hari ke hari di kampung kami kini berlimpahkan
jahil. Di warung-warung kopi orang-orang kampung
dan orang-orang luar kampung berwaktu-waktu
menghabiskan waktu untuk berjahil-jahil. Di
kantor-kantor pemerintah dan partikulir
orang-orang berlomba jahil-menjahil agar bisa
lulus bekerja, bisa lempang berkuasa. Lalu para
penguasa bertega-tega menjahili, mengibuli dan
mempreteli berlaksa kaum tak berkuasa agar nikmat
hidup dunia semata hanya jadi mereka. Lalu lagi,
sang pedagang jahil kurangi sukatan, mandor jahil
ulur masa gajian kuli, perawat jahil enggan
merawat, pembunuh jahil terus membunuh, wakil
rakyat jahil menumbalkan rakyat untuk timbun
menimbun jahil-jahilnya. Aduh, terkadang berita
duka cita dan suka cita di surat-surat kabar juga
sangat jahil dan ganjil-ganjil. Berbahagialah,
karena jahil-jahil itu telah jahilkan semesta
kami.
Suatu pagi di pelosok kampung kami yang paling
kampungan, di pinggir sungai yang bening airnya
tak lagi bergemercik, seorang bocah dan kakeknya
takzim terpekur menanti ikan kecil terjerat di
kailnya. Pagi itu lengang sekali. Sepanjang
bantaran sungai gersang sekali. Matahari bersinar
terik sekali. Udara meruap kotor sekali. Kail-kail
itu sepi dipatuk ikan lama sekali.
Kek, kok tidak kena-kena juga ikannya? cakap si
bocah pecahkan sepi pagi yang gerah.
Sabarlah. Nanti kita pasti dapat ikan yang besar.
Sabar, ya! Kakek itu menyabarkan cucunya.
Apa tak ada lagi ikan di sungai ini?
Ada, tapi tak banyak lagi…
Lho? Kok.
Ya!
Apa sebab Kek?
Ikan di sungai ini sudah dijahili.
Dijahili? Apa itu jahil?
Dibodohi!
Wah.
Jika semua sudah dijahil-jahili, dibodoh-bodohi,
jadinya ya seperti ini. Ikan-ikan telah dituba,
diracun-racunkan. Akibatnya ikan tak banyak lagi.
Jika semua sudah dijahil-jahili, dibodoh-bodohi,
semuanya tak sempurna dan tak sepenuhnya berguna
lagi. Jahil itu sungguh bodoh! geram sang kakek
marah sekali.
Sementara, di luar pelosok kampung kami yang
paling kampungan itu, kejayaan jahil telah
memproklamirkan kemerdekaannya. Para pembesar
jahil bersepakat mendirikan kerajaan jahil yang
berlandaskan mazhab-mazhab jahil untuk melindungi
dan menghantarkan rakyat jahil menuju
kesejahteraan dan kemakmuran jahil lahir dan
batin. Rakyat di negeri jahil siang malam bersuka
cita karena cita-cita mereka menjadi rakyat jahil
terlampiaskan sudah. Negeri jahil yang sejahtera
telah menghantarkan rakyatnya ke kejahilan usang
yang membanggakan, karena harkat dan martabat
rakyat terjahilkan dengan sempurna.
Kami yang bangga berkampung di kampung sendiri,
asyik mengunyah sekerat demi sekerat jahilmu.
Nikmat nian jahilmu terkecap di kami. Walau itu
tuba yang menuba kami, kami bersukacita nikmati
jahil itu, hingga kami lupa dan melupakan segala
ada yang kami punya. Jahilmu telah menyekap kami
pada harap-harap, yang terus menggiring kami untuk
berjahil ke jahil yang lebih jahil lagi.
Jahil itu bodoh, ya, Kek, tanya bocah itu lirih.
Ia semakin sabar menunggu kailnya.
Sang kakek tak menjawab. Hatinya gundah. Mukanya
merah. Sepertinya kakek lagi marah, karena
matahari di langit kampungnya kian memerah.
Banda Aceh, 19 Januari 2008
0 Tanggapan ke “Jahil”