Jembatan Keledai

Sumber: Serambi Indonesia, 27 Januari 2008

Cerpen: Saiful Bahri

Lewatlah Jembatan Keledai jika ingin singkatkan perjalanan. Demikian petuah tua para tetua kampung bagi kami-kami yang sering tersesat menempuh jalan pengembaraan. Sungguh sangat singkat dan ringkas jalan para kelana jika menikung lurus dan menapak tulus lewati jembatan keledai. Sungguh sangat ringkas dan tak perlu melingkar putar menghindar jalan-jalan buruk jika tabah melintas jembatan Keledai.

Tersebutlah kisah pada suatu lampau tentang
Saudagar Kitab yang pulang hijrah dari Negeri
Beradab. Saudagar Kitab itu bergirang hati karena
banyak kitab edisi baru yang dibawa pulang.
Terbayang di benaknya lembar-lembar untung yang
bakal diraupnya dari penghuni kampung yang haus
akan kitab. Ratusan kitab itu diangkut di atas
punggung dua ekor keledai jantan. Kedua keledai
itu saling bangga berbangga karena kitab-kitab
yang ada di atas punggungnyalah yang paling bernas
hebat manfaat isinya. Angkuh takabur para keledai
terpancar dalam saing bersaing derap langkah
melangkah gontai akan lelah perjalanan yang
digagah-gagahkan. Keledai-keledai itu berperang
angan, bahwa kandungan kitab-kitab itu sudah jadi
milik mereka, merasuk masuk seutuhnya ke batok
otak mereka. Maka, semakin bangga dan kian
tegaplah langkah para keledai itu lanjutkan sisa
jalan pulang.

Sang Saudagar dan para keledai larut dalam kalut
kemelut angan indah menawan. Laba melimpah ruah
dan nikmat khasiat ilmu kandungan kitab telah
melenakan Saudagar Kitab dan para keledai dari
ranjau sebuah lubang hitam galian saluran air
buangan yang menganga di tengah jalan. Saudagar
Kitab dan kedua keledai itu sama-sama tersuruk ke
dalam lubang. Kitab-kitab semua berhamburan, porak
poranda di dalam lubang. Mereka sama-sama
terperanjat, lalu seketika tersadar. Ternyata laba
melimpah dan nikmat khasiat ilmu kitab belum jadi
milik mereka. Di saat itu juga mereka saling
menyalahkan. Saudagar Kitab menyalahkan limpahan
laba, impian keledai dan alur jalan pulang yang
buruk. Lalu, para keledai menyalahkan loba serakah
Saudagar Kitab, lelah langkah dan plagiat sesat
isi seluruh kitab.

Tiga purnama terlewatkan sudah. Mereka masih
meringkuk dalam lubang hitam yang melintang di
tengah jalan buruk itu, sambil terus saja saling
mencerca sesamanya. Ketika lelah sempurna nyatakan
kalah, Saudagar Kitab dan kedua keledai itu
bersama-sama merayap keluar dari pasungan lubang
hitam. Segera saja perjanjian damai keduanya
terjanjikan. Sebuah kesepakatan disepakatkan
sebagai bukti janji damai itu, yaitu merentangkan
sebuah jembatan agar lubang hitam itu tak lagi
jadi penghalang, agar keledai-keledai tak lagi
bodoh dan tersuruk ke lubang-lubang yang sama.
Saudagar Kitab bermurah hati untuk menabalkan
jembatan itu dengan nama Jembatan Keledai. Para
keledai bersenang hati saja menyambut anugerah
lucu itu.

Sesejatinya saja bahwa Jembatan Keledai itu
sangatlah sederhana. Sebilah papan diletakkan
melintang di atas sedepa lubang hitam yang
menghadang badan jalan yang sedikit buruk. Begitu
dan segitu saja. Maka, jadilah jembatan itu. Dan
itulah dia Jembatan Keledai!

Tetapi sayang sungguh disayang, di zaman ini
Jembatan Keledai itu terbengkalai dan terabaikan.
Orang-orang kampung tak kenal lagi Jembatan
Keledai. Kalaupun kenal, mereka acuh saja jika ada
Jembatan Keledai. Mereka enggan memakai Jembatan
Keledai. Mereka kini telah beralih ke lain-lain
jenis jembatan. Ada yang lebih suka menyeberangkan
diri dengan Jembatan Emas, walaupun harga tebus
emas kian hari kian melambung. Ada juga yang suka
lewati Jembatan Layang, yang suka tak suka telah
melayang-layangkan harapan dan impiannya hingga
tak berjejak dan tak tahu lagi dimana akan
menjejak. Dan yang lebih celaka, sebagian besar
warga kampung yang pupuskan celaka-celakanya di
Jembatan Gantung. Dikiranya Jembatan Gantung itu
rela, sanggup dan mampu memungkaskan segala
kemelut hidup mereka dengan buai-buaian yang
mengayun-ayunkan pilunya dalam cengkram gantung
jembatan yang sengaja digantung-gantungkan.
Celaka, sungguh celaka.

Wahai, seandainya mereka lewati Jembatan Keledai.
Sementara di pinggir kampung, sebuah jembatan
Keledai sepi melapuk sendiri.

Banda Aceh, 26 Januari 2008

1 Tanggapan ke “Jembatan Keledai”


  1. 1 darkcloudygirl Juni 7, 2008 pada 5:32 pm

    jembatan keledai..
    pernah baca laskar pelangi?


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Klik tertinggi

Kategori

Komentar Terakhir

Blog Stats

  • 36,768 hits

 

Januari 2008
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.