<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>DI GUE GAJAH</title>
	<atom:link href="http://abuguegajah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuguegajah.wordpress.com</link>
	<description>ide-ide besar terus singgah</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jun 2008 16:27:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='abuguegajah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>DI GUE GAJAH</title>
		<link>http://abuguegajah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://abuguegajah.wordpress.com/osd.xml" title="DI GUE GAJAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://abuguegajah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jembatan Keledai</title>
		<link>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/27/jembatan-keledai/</link>
		<comments>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/27/jembatan-keledai/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jan 2008 04:04:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuguegajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuguegajah.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Serambi Indonesia, 27 Januari 2008 Cerpen: Saiful Bahri Lewatlah Jembatan Keledai jika ingin singkatkan perjalanan. Demikian petuah tua para tetua kampung bagi kami-kami yang sering tersesat menempuh jalan pengembaraan. Sungguh sangat singkat dan ringkas jalan para kelana jika menikung lurus dan menapak tulus lewati jembatan keledai. Sungguh sangat ringkas dan tak perlu melingkar putar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=16&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sumber: Serambi Indonesia, 27 Januari 2008</em></p>
<p><strong>Cerpen: Saiful Bahri</strong></p>
<p>Lewatlah Jembatan Keledai jika ingin singkatkan perjalanan. Demikian petuah tua para tetua kampung bagi kami-kami yang sering tersesat menempuh jalan pengembaraan. Sungguh sangat singkat dan ringkas jalan para kelana jika menikung lurus dan menapak tulus lewati jembatan keledai. Sungguh sangat ringkas dan tak perlu melingkar putar menghindar jalan-jalan buruk jika tabah melintas jembatan Keledai. <span id="more-16"></span></p>
<p>                              Tersebutlah kisah pada suatu lampau tentang<br />
                              Saudagar Kitab yang pulang hijrah dari Negeri<br />
                              Beradab. Saudagar Kitab itu bergirang hati karena<br />
                              banyak kitab edisi baru yang dibawa pulang.<br />
                              Terbayang di benaknya lembar-lembar untung yang<br />
                              bakal diraupnya dari penghuni kampung yang haus<br />
                              akan kitab. Ratusan kitab itu diangkut di atas<br />
                              punggung dua ekor keledai jantan. Kedua keledai<br />
                              itu saling bangga berbangga karena kitab-kitab<br />
                              yang ada di atas punggungnyalah yang paling bernas<br />
                              hebat manfaat isinya. Angkuh takabur para keledai<br />
                              terpancar dalam saing bersaing derap langkah<br />
                              melangkah gontai akan lelah perjalanan yang<br />
                              digagah-gagahkan. Keledai-keledai itu berperang<br />
                              angan, bahwa kandungan kitab-kitab itu sudah jadi<br />
                              milik mereka, merasuk masuk seutuhnya ke batok<br />
                              otak mereka. Maka, semakin bangga dan kian<br />
                              tegaplah langkah para keledai itu lanjutkan sisa<br />
                              jalan pulang. </p>
<p>                              Sang Saudagar dan para keledai larut dalam kalut<br />
                              kemelut angan indah menawan. Laba melimpah ruah<br />
                              dan nikmat khasiat ilmu kandungan kitab telah<br />
                              melenakan Saudagar Kitab dan para keledai dari<br />
                              ranjau sebuah lubang hitam galian saluran air<br />
                              buangan yang menganga di tengah jalan. Saudagar<br />
                              Kitab dan kedua keledai itu sama-sama tersuruk ke<br />
                              dalam lubang. Kitab-kitab semua berhamburan, porak<br />
                              poranda di dalam lubang. Mereka sama-sama<br />
                              terperanjat, lalu seketika tersadar. Ternyata laba<br />
                              melimpah dan nikmat khasiat ilmu kitab belum jadi<br />
                              milik mereka. Di saat itu juga mereka saling<br />
                              menyalahkan. Saudagar Kitab menyalahkan limpahan<br />
                              laba, impian keledai dan alur jalan pulang yang<br />
                              buruk. Lalu, para keledai menyalahkan loba serakah<br />
                              Saudagar Kitab, lelah langkah dan plagiat sesat<br />
                              isi seluruh kitab. </p>
<p>                              Tiga purnama terlewatkan sudah. Mereka masih<br />
                              meringkuk dalam lubang hitam yang melintang di<br />
                              tengah jalan buruk itu, sambil terus saja saling<br />
                              mencerca sesamanya. Ketika lelah sempurna nyatakan<br />
                              kalah, Saudagar Kitab dan kedua keledai itu<br />
                              bersama-sama merayap keluar dari pasungan lubang<br />
                              hitam. Segera saja perjanjian damai keduanya<br />
                              terjanjikan. Sebuah kesepakatan disepakatkan<br />
                              sebagai bukti janji damai itu, yaitu merentangkan<br />
                              sebuah jembatan agar lubang hitam itu tak lagi<br />
                              jadi penghalang, agar keledai-keledai tak lagi<br />
                              bodoh dan tersuruk ke lubang-lubang yang sama.<br />
                              Saudagar Kitab bermurah hati untuk menabalkan<br />
                              jembatan itu dengan nama Jembatan Keledai. Para<br />
                              keledai bersenang hati saja menyambut anugerah<br />
                              lucu itu. </p>
<p>                              Sesejatinya saja bahwa Jembatan Keledai itu<br />
                              sangatlah sederhana. Sebilah papan diletakkan<br />
                              melintang di atas sedepa lubang hitam yang<br />
                              menghadang badan jalan yang sedikit buruk. Begitu<br />
                              dan segitu saja. Maka, jadilah jembatan itu. Dan<br />
                              itulah dia Jembatan Keledai! </p>
<p>                              Tetapi sayang sungguh disayang, di zaman ini<br />
                              Jembatan Keledai itu terbengkalai dan terabaikan.<br />
                              Orang-orang kampung tak kenal lagi Jembatan<br />
                              Keledai. Kalaupun kenal, mereka acuh saja jika ada<br />
                              Jembatan Keledai. Mereka enggan memakai Jembatan<br />
                              Keledai. Mereka kini telah beralih ke lain-lain<br />
                              jenis jembatan. Ada yang lebih suka menyeberangkan<br />
                              diri dengan Jembatan Emas, walaupun harga tebus<br />
                              emas kian hari kian melambung. Ada juga yang suka<br />
                              lewati Jembatan Layang, yang suka tak suka telah<br />
                              melayang-layangkan harapan dan impiannya hingga<br />
                              tak berjejak dan tak tahu lagi dimana akan<br />
                              menjejak. Dan yang lebih celaka, sebagian besar<br />
                              warga kampung yang pupuskan celaka-celakanya di<br />
                              Jembatan Gantung. Dikiranya Jembatan Gantung itu<br />
                              rela, sanggup dan mampu memungkaskan segala<br />
                              kemelut hidup mereka dengan buai-buaian yang<br />
                              mengayun-ayunkan pilunya dalam cengkram gantung<br />
                              jembatan yang sengaja digantung-gantungkan.<br />
                              Celaka, sungguh celaka. </p>
<p>                              Wahai, seandainya mereka lewati Jembatan Keledai.<br />
                              Sementara di pinggir kampung, sebuah jembatan<br />
                              Keledai sepi melapuk sendiri. </p>
<p>                              Banda Aceh, 26 Januari 2008 </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuguegajah.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuguegajah.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuguegajah.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuguegajah.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=16&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/27/jembatan-keledai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1db2c32a501620f5e67515b4f182a383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuguegajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jahil</title>
		<link>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/21/jahil/</link>
		<comments>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/21/jahil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jan 2008 03:18:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuguegajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuguegajah.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Serambi Indonesia, 20 Januari 2008 Cerpen: Saiful Bahri Beratus tahun sudah kupaham-pahamkan jerat jahil yang sabar kau tebar di selingkup kampung kami yang menggelinjang dirangsang tabu demi tabu. Indah nian jerat jahilmu menjerat kami, warga kampung yang lugu, untuk bangga berjahil dan risih tersisih jika tak jahil. Sungguh jahilmu itu telah mendedah dan mengubah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=10&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sumber: Serambi Indonesia, 20 Januari 2008</em><br />
Cerpen: <strong>Saiful Bahri </strong></p>
<p>Beratus tahun sudah kupaham-pahamkan jerat jahil yang sabar kau tebar di selingkup kampung kami yang menggelinjang dirangsang tabu demi tabu. Indah nian jerat jahilmu menjerat kami, warga  kampung yang lugu, untuk bangga berjahil dan risih tersisih jika tak jahil. Sungguh jahilmu itu telah mendedah dan mengubah tabiat kami, adat kami, darah merah kami. Berbahagialah, karena jahilmu itu telah jahilkan kami. <span id="more-10"></span></p>
<p>                              Hari ke hari di kampung kami kini berlimpahkan<br />
                              jahil. Di warung-warung kopi orang-orang kampung<br />
                              dan orang-orang luar kampung berwaktu-waktu<br />
                              menghabiskan waktu untuk berjahil-jahil. Di<br />
                              kantor-kantor pemerintah dan partikulir<br />
                              orang-orang berlomba jahil-menjahil agar bisa<br />
                              lulus bekerja, bisa lempang berkuasa. Lalu para<br />
                              penguasa bertega-tega menjahili, mengibuli dan<br />
                              mempreteli berlaksa kaum tak berkuasa agar nikmat<br />
                              hidup dunia semata hanya jadi mereka. Lalu lagi,<br />
                              sang pedagang jahil kurangi sukatan, mandor jahil<br />
                              ulur masa gajian kuli, perawat jahil enggan<br />
                              merawat, pembunuh jahil terus membunuh, wakil<br />
                              rakyat jahil menumbalkan rakyat untuk timbun<br />
                              menimbun jahil-jahilnya. Aduh, terkadang berita<br />
                              duka cita dan suka cita di surat-surat kabar juga<br />
                              sangat jahil dan ganjil-ganjil. Berbahagialah,<br />
                              karena jahil-jahil itu telah jahilkan semesta<br />
                              kami. </p>
<p>                              Suatu pagi di pelosok kampung kami yang paling<br />
                              kampungan, di pinggir sungai yang bening airnya<br />
                              tak lagi bergemercik, seorang bocah dan kakeknya<br />
                              takzim terpekur menanti ikan kecil terjerat di<br />
                              kailnya. Pagi itu lengang sekali. Sepanjang<br />
                              bantaran sungai gersang sekali. Matahari bersinar<br />
                              terik sekali. Udara meruap kotor sekali. Kail-kail<br />
                              itu sepi dipatuk ikan lama sekali. </p>
<p>                              Kek, kok tidak kena-kena juga ikannya? cakap si<br />
                              bocah pecahkan sepi pagi yang gerah. </p>
<p>                              Sabarlah. Nanti kita pasti dapat ikan yang besar.<br />
                              Sabar, ya! Kakek itu menyabarkan cucunya. </p>
<p>                              Apa tak ada lagi ikan di sungai ini? </p>
<p>                              Ada, tapi tak banyak lagi&#8230; </p>
<p>                              Lho? Kok. </p>
<p>                              Ya! </p>
<p>                              Apa sebab Kek? </p>
<p>                              Ikan di sungai ini sudah dijahili. </p>
<p>                              Dijahili? Apa itu jahil? </p>
<p>                              Dibodohi! </p>
<p>                              Wah. </p>
<p>                              Jika semua sudah dijahil-jahili, dibodoh-bodohi,<br />
                              jadinya ya seperti ini. Ikan-ikan telah dituba,<br />
                              diracun-racunkan. Akibatnya ikan tak banyak lagi.<br />
                              Jika semua sudah dijahil-jahili, dibodoh-bodohi,<br />
                              semuanya tak sempurna dan tak sepenuhnya berguna<br />
                              lagi. Jahil itu sungguh bodoh! geram sang kakek<br />
                              marah sekali. </p>
<p>                              Sementara, di luar pelosok kampung kami yang<br />
                              paling kampungan itu, kejayaan jahil telah<br />
                              memproklamirkan kemerdekaannya. Para pembesar<br />
                              jahil bersepakat mendirikan kerajaan jahil yang<br />
                              berlandaskan mazhab-mazhab jahil untuk melindungi<br />
                              dan menghantarkan rakyat jahil menuju<br />
                              kesejahteraan dan kemakmuran jahil lahir dan<br />
                              batin. Rakyat di negeri jahil siang malam bersuka<br />
                              cita karena cita-cita mereka menjadi rakyat jahil<br />
                              terlampiaskan sudah. Negeri jahil yang sejahtera<br />
                              telah menghantarkan rakyatnya ke kejahilan usang<br />
                              yang membanggakan, karena harkat dan martabat<br />
                              rakyat terjahilkan dengan sempurna. </p>
<p>                              Kami yang bangga berkampung di kampung sendiri,<br />
                              asyik mengunyah sekerat demi sekerat jahilmu.<br />
                              Nikmat nian jahilmu terkecap di kami. Walau itu<br />
                              tuba yang menuba kami, kami bersukacita nikmati<br />
                              jahil itu, hingga kami lupa dan melupakan segala<br />
                              ada yang kami punya. Jahilmu telah menyekap kami<br />
                              pada harap-harap, yang terus menggiring kami untuk<br />
                              berjahil ke jahil yang lebih jahil lagi. </p>
<p>                              Jahil itu bodoh, ya, Kek, tanya bocah itu lirih.<br />
                              Ia semakin sabar menunggu kailnya. </p>
<p>                              Sang kakek tak menjawab. Hatinya gundah. Mukanya<br />
                              merah. Sepertinya kakek lagi marah, karena<br />
                              matahari di langit kampungnya kian memerah. </p>
<p>                              Banda Aceh, 19 Januari 2008 </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuguegajah.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuguegajah.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuguegajah.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuguegajah.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=10&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/21/jahil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1db2c32a501620f5e67515b4f182a383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuguegajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Celaka 12</title>
		<link>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/14/celaka-12/</link>
		<comments>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/14/celaka-12/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jan 2008 03:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuguegajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuguegajah.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Serambi Indonesia, 13 Januari 2008 Cerpen: Saiful Bahri ] Di bawah cahaya bulan purnama, di mulut kuala, di hamparan empuk pasir hangat pantai Panteraja, kedua dua manusia tua itu bercengkrama, mengurut-urut penggalan kisah hidup yang hampir luput. Angin asin yang berhembus lurus mengiring asing sebuah biduk kecil yang larut melaut. Riak kecil laut yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=12&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sumber: Serambi Indonesia,   13 Januari 2008</em></p>
<p><strong>Cerpen: Saiful Bahri ]</strong></p>
<p>Di bawah cahaya bulan purnama, di mulut kuala, di  hamparan empuk pasir hangat pantai Panteraja, kedua dua manusia tua itu bercengkrama,  mengurut-urut penggalan kisah hidup yang hampir luput. Angin asin yang berhembus lurus mengiring asing sebuah biduk kecil yang larut melaut. Riak  kecil laut yang tenang bersitkankan bayang jingga  bulan tembaga dari balik hutan bakau yang merisau. <span id="more-12"></span></p>
<p>                              Kek Sawang dan Kek Leman sesekali terkekeh ketika<br />
                              kenangan lucu itu kembali mengharu dan<br />
                              melesak-lesak di hati dan mendenyut-denyut di<br />
                              batok kepala mereka. Sungguh baru kemarin terasa<br />
                              itu semua. Bau lumpur payau yang pahit dan<br />
                              kepiting-kepiting kecil yang berlarian riang<br />
                              keliangnya masih menyisakan ceria usia belia.<br />
                              Lalu, kini kemana berlalu semua itu? Sungguh<br />
                              sangat terlalu waktu yang sungguh cepat berlalu. </p>
<p>                              Maka, inilah dia celaka 12. Celaka di bawah<br />
                              siraman cahaya bulan kala hari ke 12. Celaka<br />
                              ketika tak bisa mengelak, tak bisa menolak. Celaka<br />
                              yang sungguh mencelakakan. Celaka yang tak<br />
                              main-main ketika semua dianggap permainan. Celaka<br />
                              yang mejerat dan melilit, lalu menyeret, lalu<br />
                              membekap, lalu menggorok putus segala bangga yang<br />
                              membanggakan Kek Sawang dan Kek Leman dikelampauan<br />
                              masa lalu yang telah berlalu. </p>
<p>                              Leman, inikah akhir kita? desah Kek Sawang lirih<br />
                              sambil menerawang tinggi menembus cakrawala,<br />
                              melintasi bintang-bintang. </p>
<p>                              Akhir? Belum. Ini belum berakhir. Ini bukan akhir?<br />
                              jawab Kek Leman serak sambil terus melinting rokok<br />
                              daun nipahnya pelan-pelan. </p>
<p>                              Jadi?! </p>
<p>                              Ini baru awal. Ini baru coba-coba&#8230; </p>
<p>                              Coba-coba? </p>
<p>                              Ya! </p>
<p>                              Coba apa? Coba Siapa? </p>
<p>                              Celaka! </p>
<p>                              Celaka? </p>
<p>                              Kita dicoba untuk celaka. Celaka yang ke 12! </p>
<p>                              Gila! </p>
<p>                              Hmk! </p>
<p>                              Tercekat mereka sejenak. Angin terdepak mati.<br />
                              Bulan meremang. Malam bergetar. Laut menguap.<br />
                              Biduk kecil linglung. Harapan kosong.<br />
                              Pikiran-pikiran membusuk. Angan-angan melepuh.<br />
                              Kota-kota tenggelam satu-satu. Kampung-kampung<br />
                              tergadai satu-satu. Janji-janji basi membasi.<br />
                              Mimpi-mimpi lekang merapuh. Gairah tertindih.<br />
                              Langit tergulung. Bumi terlipat. Celaka 12 itu<br />
                              melindas semesta Kek Sawang dan Kek Leman<br />
                              seutuhnya. </p>
<p>                              Di kedai kopi yang luput digerus malam,<br />
                              lamat-lamat dari radio tua terdengar sebait lagu<br />
                              Ebit G. Ade : Ini salah siapa, ini dosa siapa.. </p>
<p>                              Ketika pagi menjelang, Kek Sawang dan Kek Leman<br />
                              gemetar pulang meniti pematang tambak. Tak<br />
                              dihiraukan lagi bau lumpur payau yang pahit<br />
                              menyengat dan gerak riang kepiting memburu liang.<br />
                              Mereka kecewa karena ternyata pagi masih ada.<br />
                              Mereka berharap malam segera merayap lagi, agar<br />
                              mereka dapat bercengkrama lagi. Agar mereka<br />
                              mereguk celaka 12 lagi. </p>
<p>                              Di ujung sisa usianya, Kek Sawang dan Kek Leman<br />
                              terus meraba-raba makna segala celaka. </p>
<p>                              Treinggadeng, 12 Januari 2008 </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuguegajah.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuguegajah.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuguegajah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuguegajah.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=12&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/14/celaka-12/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1db2c32a501620f5e67515b4f182a383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuguegajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisaran Hitam</title>
		<link>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/07/kisaran-hitam/</link>
		<comments>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/07/kisaran-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 03:27:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abuguegajah</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERPEN PENDEK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuguegajah.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Serambi Indonesia, 06 Januari 2008 Cerpen: Saiful Bahri ] Kenikmatan apakah yang terkandung dalam sebuah kekalahan? Itu dan begitu terus pertanyaan yang berkisar-kisar dan menggaruk-garuk saraf pikirnya hampir tiga minggu ini. Akibatnya ia tak peduli lagi tentang semua. Tentang dirinya yang kian lusuh, kurus, pucat dan gemetar juga tak mau diacuhkannya lagi. Percuma dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=11&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sumber: Serambi Indonesia,  06 Januari 2008</em></p>
<p><strong>Cerpen: Saiful Bahri ]</strong></p>
<p>Kenikmatan apakah yang terkandung dalam sebuah kekalahan? Itu dan begitu terus pertanyaan yang berkisar-kisar dan menggaruk-garuk saraf pikirnya hampir tiga minggu ini. Akibatnya ia tak peduli lagi tentang semua. Tentang dirinya yang kian lusuh, kurus, pucat dan gemetar juga tak mau diacuhkannya lagi. Percuma dan semua terasa sia-sia. <span id="more-11"></span></p>
<p>                              Hari ini langkah yang gontai itu menapak dan<br />
                              tersaruk-saruk disela-sela gundukan tanah kuburan.<br />
                              Sesekali tangan tuanya menyaput rambut putih kusut<br />
                              masai yang jatuh dimukanya. Ia gelagapan sambil<br />
                              mengumbar seuntai senyum kecut. Sekali ia lototkan<br />
                              mata cekung itu ke langit yang tengah dikerubung<br />
                              awan hitam. Kemudian dengan sangat perlahan<br />
                              dijatuhkan tubuh tua itu di samping gundukan tanah<br />
                              sebuah kuburan. </p>
<p>                              Perang batin tua itu berkecamuk lagi. Ia kembali<br />
                              terpelanting ke sudut dinding-dinding usang yang<br />
                              pernah mencatat sejarah masa jayanya dahulu. Suatu<br />
                              kali ia pernah lupakan kodrat, ketika suka cita<br />
                              dunia tertoreh indah di mata hatinya. Ia<br />
                              terbentur-bentur dan melebur-lebur di dalamnya.<br />
                              Sungguh nikmat dan indah sekali nikmat itu. Tak<br />
                              terkatakan. Tak terlukiskan. </p>
<p>                              Tetapi itu hanya sekejap. Sungguh sangat sekejap.<br />
                              Sebab setelah itu ia dipelantingkan kembali ke<br />
                              dinding-dinding karang yang garang girang mencucuk<br />
                              dan menggerus habis catatan sejarah masa jayanya<br />
                              dahulu itu. Kisaran masa hitam bersuka ria<br />
                              mempontang-pantingkan keberadaan dan<br />
                              ketidakberdayaannya. Semua bersorak,<br />
                              mengancung-ancungkan tangan, menepuk dada,<br />
                              menggeleng kepala, meneguk euphoria, bersitkan<br />
                              citarasa bahagia yang entah apa, atas segala<br />
                              nestapa yang menimpanya. </p>
<p>                              Sekarang ia kusyuk terpekur di samping gundukan<br />
                              sebuah kuburan. Ia tidak tahu kuburan siapa yang<br />
                              diziarahinya itu. Ziarah? Adakah ini suatu ziarah?<br />
                              Bukankan dulu ia berprinsip kalau ziarah adalah<br />
                              tindak pasrah orang-orang kalah? Ah, itu tidak<br />
                              terlalu riskan untuk diungkit-ungkit. Sekarang<br />
                              yang mengganjal tanya di batinnya adalah mengapa<br />
                              mesti ke kuburan? Adakah ia tengah dihipnotis?<br />
                              Rasa-rasanya tidak! Sampai detik ini ia masih bisa<br />
                              membedakan antara hitam dan putih, antara pahit<br />
                              dan asin. Ia masih sanggup mengangguk dan<br />
                              menggeleng, berkata ya dan tidak. Dan yang lebih<br />
                              vital lagi ia masih bisa bergerak. Ia masih hidup!<br />
                              Tetapi dalam gerak hidup kali ini ia berkeyakinan<br />
                              kalau ia ini bukan dirinya yang itu lagi. Inilah<br />
                              yang membuatnya gamang. Ngeri! </p>
<p>                              Di tengah kengeriannya tiba-tiba ia berkesimpulan<br />
                              bahwa gundukan kuburan yang berada di hadapannya<br />
                              itu adalah kuburannya. Ia terbelalak. Gemetar.<br />
                              Bingung. Terbentur. Tak mungkin pungkir dan<br />
                              mangkir. Ia terjebakl. Ia sungguh-sungguh<br />
                              terjebak. Ini lubang yang digalinya sendiri. Ini<br />
                              lubang akan membenamkan dirinya sendiri. Dalam<br />
                              kalut bimbang itu ia mencoba tersenyum, sambil<br />
                              bergumam lirih: Aku benar-benar dipaksa nikmati<br />
                              kalah. </p>
<p>                              Tak perlu penyesalan di akhir perjalanan! seru<br />
                              sebuah suara dari dalam kuburan. </p>
<p>                              Ia termangu sejenak. Keyakinannya digerogoti lagi.<br />
                              Benarkah ia mendengar suara? Ataukah itu hanya<br />
                              suatu ketiadaan yang sengaja diada-adakan sehingga<br />
                              menjadi ada. Ia tak percaya! Ia tak mau<br />
                              mempercaya! Sebentar kemudian ia mulai tersedu.<br />
                              Pedih! Pilu itu memerih! </p>
<p>                              Tak perlu tangisan di akhir perjalanan! seru suara<br />
                              itu lagi. </p>
<p>                              Sekarang ia yang terperangah. Ia mendadak marah. </p>
<p>                              Siapa kau?! bentaknya keras. </p>
<p>                              Aku kau! jawab suara dalam kuburan dingin dan<br />
                              pelan. </p>
<p>                              Heh?! Olok-olok macam apa ini? </p>
<p>                              Tidak! Aku tak mengolok diriku sendiri&#8230; </p>
<p>                              Jadi? </p>
<p>                              Ya, Akulah kau. Kaulah aku. Kita telah mati! </p>
<p>                              Tercenung ia sejenak. Kemudian perlahan ia<br />
                              rogoh-rogoh saku celananya. Ia keluarkan sebungkus<br />
                              rokok yang sudah lusuh sekali. Kisaran Hitam. Itu<br />
                              nama rokoknya. Unik sekali tingkahnya ketika ia<br />
                              memilin-milin rokok itu. Lalu dengan telaten ia<br />
                              membakarnya dan menghisapnya dalam-dalam. Lama<br />
                              sekali. Dipejamkan matanya sambil membaringkan<br />
                              tubuh sebujur gunduk tanah kuburan. Dinikmati<br />
                              citarasa Kisaran Hitam ketika dikepul-kepulkan<br />
                              asapnya yang sungguh pekat hitam warnanya. Asap<br />
                              itu berputar-putar mengerubung sekujur gunduk<br />
                              tanah kuburan, menyekap empat penjuru kompleks<br />
                              kuburan, menyaput langit-langit kampung, mengepung<br />
                              kota-kota, mengurung dinding-dinding pembatas<br />
                              negeri. Dihisap dan dihirup lagi rokok itu, lalu<br />
                              dikepul-kepulkan lagi nikmat asap hitam itu. Maka,<br />
                              hitamlah hitam! </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/abuguegajah.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/abuguegajah.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abuguegajah.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abuguegajah.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abuguegajah.wordpress.com&amp;blog=3900823&amp;post=11&amp;subd=abuguegajah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuguegajah.wordpress.com/2008/01/07/kisaran-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/1db2c32a501620f5e67515b4f182a383?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">abuguegajah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
